Jadikan hati sebagai tonggak perubahan

Menghirup Telaga Allah


Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya, orang-orang pertama yang akan masuk dan menghirup nikmatnya air telaga Allah SWT kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang sewaktu di dunia saling mencintai karena Allah SWT.” (HR Bukhari-Muslim dari Abu Darda).

Rasa cinta yang ada dalam diri setiap manusia merupakan suatu anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya. Dengan perasaan itu, antara satu manusia dan manusia lain berhasil membangun suatu tatanan kehidupan sosial yang harmonis dan damai. Sehingga, tercipta suasana yang sangat kondusif bagi upaya pengembangan diri masing-masing. Namun, harus diingat, bahwa dalam kenyataan kehidupan di sekitar kita, ada banyak hal yang membuat rasa cinta itu sering terabaikan dan terlupakan. Sebagian orang sering lebih mengedepankan sikap-sikap kasar yang menjurus pada tindak kekerasan.

Mengingat betapa pentingnya mengembangkan rasa saling mencintai dalam suatu masyarakat, Rasulullah SAW dalam satu hadisnya pernah bersabda, ”Maukah aku tunjukkan satu praktik yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Bukhari-Muslim).

Salam, menurut bahasa salah satunya berarti kedamaian. Salam, jika dilihat sepintas rasanya memang sederhana. Akan tetapi, justru, jika dilihat lebih dalam, salam akan memiliki efek sangat positif. Salam merupakan bahasa yang komunikatif untuk membuat orang yang tadinya tidak kenal menjadi saling kenal, dan membuat orang yang sudah kenal menjadi lebih akrab lagi. Rasa cinta, sebagai bagian inheren dalam diri setiap manusia mesti dioptimalkan menjadi energi positif. Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan praktis agar rasa cinta itu tetap dalam relnya yang benar dan tepat sehingga bisa berbuah manis, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat nanti. Pertama, rasa cinta yang telah tertanam dalam diri manusia harus dianggap sebagai karunia Allah SWT. Sehingga, rasa cinta itu akan tetap diletakkan dalam koridor nilai-nilai ketuhanan.

Kedua, menjadikan rasa cinta hanya kepada Allah SWT sebagai cinta tertinggi. Manusia memang harus mencintai sesama, namun itu harus ditempatkan pada tingkat di bawah cinta kita kepada Allah SWT. Bentuknya, segala amal manusia harus diniatkan semata-mata karena rasa cintanya kepada Sang Khaliq, bukan kepada makhluk-Nya. Ketiga, mencintai sesama juga harus dilandaskan atas dasar kecintaan karena Allah SWT. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa salah satu hal yang membuat seseorang pada hari kiamat nanti akan memperoleh naungan Allah SWT adalah mencintai sesama manusia atas dasar cinta kepada Allah SWT. Bertemu dan berpisah, semuanya adalah karena Allah SWT. (HR Bukhari-Muslim).

Orang-orang yang sewaktu di dunia saling mencintai sesamanya karena Allah SWT, dijanjikan akan menghirup air telaga Allah SWT pada hari kiamat. Suatu hari yang oleh Allah SWT digambarkan sebagai hari yang sangat berat karena panas terik sinar matahari yang didekatkan oleh Allah SWT.

Iklan

Komentar ditutup.