Jadikan hati sebagai tonggak perubahan

Posts tagged “Al-Quran

Surat Cinta untuk Allah


Ya Allah…. Entah harus mulai dari mana aku menulis surat cintaku ini. Surat dari seorang hamba yang telah Engkau ciptakan di bumiMu yang begitu indah. Surat dari seorang yang tidak tahu balas budi atas semua kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya. Surat yang datang dari seorang makhluk yang paling sempurna menurutMu, berwujud manusia. Semoga Engkau berkehendak membacanya ya Allah, surat cinta yang kutujukan padaMu dengan linangan air mata.

Ya Allah…. Hampir 30 tahun Kau hadirkan aku di bumi-Mu ini. Begitu banyak coretan pena yang telah kutulis di dalam buku catatan harianku. Baik coretan itu berupa kebaikan maupun keburukan, tentu Engkau lebih tahu seperti apa diriku ini. Tentu pula malaikat di kanan dan kiriku tak pernah lengah dengan apa yang aku lakukan, semua tercatat rapih dalam buku catatan amalku.

Ya Allah…. Terkadang aku merasa begitu Engkau sayangi. Bagaimana tidak, seburuk apapun perlakuanku padaMu, tetapi Engkau tak pernah marah. Kau tetap sabar menghadapiku. Dengan tatapan kasih sayang dan kelembutanMu, Kau penuhi segala kebutuhanku, Kau penuhi semua permintaanku. Benarlah jika ada ungkapan yang pernah aku dengar dari orang lain yang mengatakan bahwa kasih sayangMu kepada makhluk ciptaanMu melebihi kasih sayang seorang ibu walaupun ada satu juta ibu yang dikumpulkan di muka bumi ini. Kasih sayangMu selalu mendahului murkaMu.
Ya Allah…. Maafkan aku jika sering berjalan di muka bumiMu dengan mata bisa melihat, tetapi buta. Telinga bisa mendengar, tetapi tuli. Mulut bisa berbicara, tetapi bisu. Kaki bisa berjalan, tetapi lumpuh. Dan kami sering merasa paling pintar, tetapi sesungguhnya bodoh. Kami berjalan bagai mayat sombong, tertawa terbahak-bahak, tak mengerti untuk apa hidup di dunia ini. Astaghfirullah ‘al ‘adzim.

Ya Allah…. Maafkan aku jika masih sering mengeluh atas setiap takdir yang Kau tetapkan untukku. Kadang aku tak mampu membaca rahasiaMu, membaca maksud yang tersirat atas setiap takdirMu. Aku masih suka merasa bahwa Kau tak memberikan yang aku pinta. Padahal seharusnya aku yakin, apapun yang Kau berikan untukku, apapun yang terjadi dalam hidupku, semua itu pasti yang terbaik untukku, taka da yang sia-sia sedikitpun. Tak mungkin Kau mencelakai hambaMu, seharusnya aku sadar akan hal itu.

Ya Allah…. Maafkan aku jika masih kurang bersyukur atas setiap nikmat yang Kau berikan. Seringkali kenikmatakan membutakan mata hatiku. Hingga tanpa sadar akupun lupa mengucap syukur kepadaMu. Padahal semua nikmat adalah pemberian dariMu dan aku pun tahu Kau pernah berjanji, apabila aku besyukur, Kau akan tambah nikmat itu padaku. Tetapi kenyataannya aku pun sering tak bersyukur, dan kufur atas setiap nikmat yang Kau berikan.

Ya Allah…. Engkaupun tahu masih sedikit sekali amal sholehku selama ini. Sudah sedikit, amal sholeh itupun masih kurang sempurna, terkadang masih aku nodai dengan niat-niatan duniawi yang terkadang tak kusadari. Terkadang ada rasa riya dan ingin dilihat oleh orang lain. Engkau pasti lebih tahu bisikan hatiku. Mungkin kalaupun amal sholehku dikumpulkan, itupun takkan cukup untuk menutupi dosa-dosa yang telah kuperbuat.

Ya Allah…. Betapa seringnya aku bertaubat, tetapi tanpa kusadari aku kembali ingkar kepadaMu. Betapa sering aku memohon ampun, tetapi setelah itupun aku kembali mengotori hatiku. Lagi-lagi Engkaupun lebih tahu daripada diriku sendiri. Bahkan tanpa sadar dosa-dosa itupun aku lakukan dengan kebanggaan. Astagfirullah.

Ya Allah…. Sahabat-sahabatku, keluargaku, ade-adeku mungkin menganggapku orang baik. Padahal jika mereka tahu seberapa hinanya diriku, seberapa kotornya hati ini, mungkin jangankan mereka mau mengenalku, menatap wajahku pun mereka tak kan pernah sudi. Tetapi lagi-lagi Kau tutupi semua aib-aibku di depan mereka. Kau biarkan aku terlihat baik di depan mereka, padahal sesungguhnya aku hanya seorang hamba yang hina dihadapaMu.

Ya Allah…. Aku tak tahu sampai kapan Kau izinkan aku hidup di dunia ini. Semua adalah rahasiaMu. Tetapi ya Allah, jika aku boleh memohon padaMu, sudilah kiranya Kau tetap menyangiku hingga kelak kematian tiba. Mungkin setelah menulis surat inipun, aku akan melakukan dosa kembali, tetapi satu pintaku ya Allah, jangan pernah Kau tinggalkan aku sedikitpun, walaupun aku sering pergi meninggalkanMu. Tegur aku dengan lembut ya Allah, jika aku mulai jauh dariMu. Bimbing setiap bisikkan hatiku, setiap lisanku, dan setiap langkahku agar setia pada jalanMu.

Ya Allah…. Jangan Kau panggil aku sebelum aku bisa membahagiakan dan membalas kebaikan kedua orang tuaku. Walaupun aku tahu, apabila aku bisa memberi dunia dan seisinya kepada mereka, itupun takkan pernah sebanding dengan pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Tetapi jika Kau berkehendak memanggil aku sebelum aku bisa membahagiakan keduanya, maka aku titipkan mereka padaMu. Bahagiakanlah mereka ya Allah, dunia dan alhirat. Jadikan setiap kebaikan yang mereka lakukan untukku sebagai penghapus dosa-dosa mereka. Aku yakin Engkaulah sebaik-baiknya pemberi balasan.

Ya Allah…. Ada juga orang-orang yang kusayangi selain orang tua dan keluargaku. Mereka tak satu darah denganku, mereka tak satu orangtua denganku, tetapi mereka sangat menyayangiku dan aku pun menyayangi mereka. Merekalah saudara spiritualku di jalanMu. Mereka yang mengajariku tentang indahnya mencintaiMu dan KekasihMu. Mereka yang selalu hadir saat aku jauh dari orangtua dan keluargaku. Mereka dengan sabar mau menerima segala kekurangku. Aku mohon ya Allah, sayangi pula mereka. Bimbing jalan mereka saat aku tak berada di dekatnya. Kumpulkan kelak kami di surgaMu sebagaimana Kau kumpulkan kami di dunia ini.

Ya Allah…. Pintaku yang terakhir, jikalau nanti saat itu tiba, saat dimana malaikat maut menjemputku, bimbinglah lisan hamba untuk hanya menyebut namaMu. Jangan biarkan aku menyebut sesuatu yang kucintai di dunia ini. Karena aku ingin kembali kepadaMu, tanpa membawa cinta yang lain selain cintaku padaMu. Matikan aku khusnul khotimah ya Allah dan penuhi dadaku dengan rasa rindu berjumpa denganMu dan kekasihMu. Tak ada yang lebih kuinginkan kecuali bisa menatap wajahMu dan memelukMu kelak di surga.

Terimalah semua doaku ya Allah, ampuni segala dosaku, kasihanilah aku dan sayangi aku hingga di hari aku menutup mata selamanya, kembali kepelukanMu. Jika Kau tak mau menerimaku, kemana lagi aku harus kembali? Karena aku berasal dariMu dan kelak akan kembali kepadaMu.

 

 

Sembah Sujudku,
Hamba yang penuh dosa

Iklan

Adab membaca Al Quran


Salah satu kegiatan utama berkaitan dengan Al Quran
tentu adalah membacanya. Semua ibadah berkaitan
dengan Al Quran dijanjikan dengan pahala yang besar,
termasuk dalam hal membacanya.
Namun, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, untuk
lebih mencapai dan memperoleh manfaat dari
membaca Al Qur’an tersebut, Islam telah mengatur
adab-adab dan etika ketika seorang muslim membaca
Al Qur’an.
Berikut beberapa adab membaca Al Quran :
Pertama : Dianjurkan dan disunahkan dalam membaca
Al Quran dalam kondisi yang sempurna; bersih,
menghadap qiblat, serta senantiasa menjagan waktu
terbaik untuk membaca Al Quran seperti malam hari,
ba’da maghrib, dan ba’da shubuh sebagaimana firman
Allah
ﺇِﻥَّ ﻧَﺎﺷِﺌَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻫِﻲَ ﺃَﺷَﺪُّ ﻭَﻃْﺌًﺎ ﻭَﺃَﻗْﻮَﻡُ ﻗِﻴﻠًﺎ
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih
tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih
berkesan. ” (Al-Muzammil:6) dan juga
ﺇِﻥَّ ﻗُﺮْﺁﻥَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺸْﻬُﻮﺩًﺍ
“Sesungguhnya membaca Al-Qur’an di waktu Fajar
disaksikan (oleh Malaikat), ” (Al-Isra:78)
Dan membaca Al-Qur’an dalam kondisi berdiri, duduk,
berbaring, berjalan bahkan ketika berkendaraan,
sebagaimana firman-Nya:
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, ” (Ali
Imran: 191).
Kedua Maka disunnahkan memperbanyak bacaan baik
ketika pagi, siang, sore dan malam sebagaimana hadits
Rasulullah “Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan
kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang
Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam
kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu,
ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya
kepada orang lain. ” (HR. Muslim).
Kedua : Membaca Al Quran adalah sebaik-baik dzikir.
Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT
telah berfirman, ”Barangsiapa yang disibukkan dengan
Al Quran dan berdzikir kepada-Ku, hingga tidak
sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan
memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada
orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman
Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti
keutamaan Allah atas semua makhluknya. ” (HR.
Turmudzi)
Ketiga : Membaca Al Quran dengan tartil lebih
diutamakan dari pada membaca dengan terburu-buru
sehingga seluruh huruf-hurufnya jelas dan lebih
menyentuh ke dalam hati.
ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻠًﺎ
“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. ” (Al
Muzzammil:4)
Keempat : Memperindah bacaan sebagaimana sabda
Rasulullah saw, “Hiasilah Al Quran itu dengan
suaramu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lainnya disebutkan “Sesungguhnya suara
yang baik itu menambah Al Quran menjadi baik. ” (HR.
Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Sumber : [www.islampos.com]


Dahsyatnya Kekuatan Sedekah


Di dalam Al-Quran, Al-Hadits dan atsar shahabah telah disebutkan beberapa keutamaan sedekah dan orang yang melakukannya. Baca dan renungilah secara baik dalil-dalil di bawah ini! Bersedekahlah, dan Anda akan merasakan betapa dahsyatnya kekuatan sedekah!![1]

  1. Sedekah adalah Amal yang Utama

Rasulullah n telah bersabda :

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى, وَ الْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَ الْيَدُ السُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, dan tangan di bawah adalah yang meminta.”[2]

‘Umar bin Khaththab a pernah berkata :

إِنَّ اْلأَعْمَالَ تَتَبَاهَى, فَتَقُوْلُ الصَّدَقَةُ : أَنَا أَفْضَلُكُمْ

Sesungguhnya amalan-amalan itu saling membanggakan diri satu sama lain, maka sedekah pun berkata (kepada amalan-amalan lainnya), ‘Akulah yang paling utama di antara kalian’.”[3]

2. Melindungi dari Bencana

Ingatlah hadits Rasul n di bawah ini, dan sebenarnya hadits inilah yang memercikkan inspirasi kepada saya untuk menulis buku tentang pengobatan sedekah ini :

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”[4]
Sebagian para salaf berpendapat bahwa sedekah bisa menolak bencana dan musibah-musibah, sekalipun pelakunya adalah orang zhalim. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah v mengatakan, “Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim, atau bahkan orang kafir, karena Allah l akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan sedekah tersebut…”.[5] Ibrahim An-Nakha’i juga menegaskan, “Para salaf berpandangan bahwa sedekah dapat menghindarkan orang yang zhalim (dari berbagai marabahaya dan kesusahan).”[6]

3. Berlipat Ganda Pahalanya

Allah telah berfirman, “Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah [2] : 261)

Rasul n juga bersabda :

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ, وَ لاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ, وَ إِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

Barangsiapa bersedekah senilai satu biji kurma yang berasal dari mata pencaharian yang baik –dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik–, maka sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian dipelihara untuk pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kuda, sehingga sedekah itu menjadi (besar) seperti gunung.”[7]

Yahya bin Ma’ad berkata, “Aku tidak mengetahui adanya sebuah biji yang beratnya sebanding dengan gunung di dunia, kecuali dari biji yang disedekahkan.”[8]

4. Menghapus Dosa dan Kesalahan

Rasul n bersabda :

تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرَةٍ, فَإِنَّهَا تَسُدُّ مِنَ الْجَائِعِ وَ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

Bersedekahlah kalian, meski hanya dengan sebiji kurma. Sebab, sedekah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air mampu memadamkan api.”[9]

Beliau n juga pernah memberikan nasihat kepada para pedagang :

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ, إِنَّ الشَّيْطَانَ وَ اْلإِثْمَ يَحْضِرَانِ الْبَيْعَ, فَشُوْبُوْا بَيْعَكُمْ بِالصَّدَقَةِ

Wahai sekalian pedagang, sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual beli kalian, maka sertailah jual beli kalian dengan sedekah.”[10]

5. Menjadikan Harta Berkah dan Berkembang

Bersedekah bisa menjadikan pelakunya memiliki harta yang berlimpah. Maka, jadilah orang kaya, dengan bersedekah. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (Saba’ [34] : 39)
Rasulullah n bersabda :

إِنَّ اللهَ لَيُرَبِّي لأَحَدِكُمُ التَّمْرَةَ وَ اللُّقْمَةَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ أُحُدٍ

Sesungguhnya Allah akan mengembangkan sedekah kurma atau sepotong makanan dari seorang di antara kalian, sebagaimana seorang di antara kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga sedekah tersebut menjadi besar seperti bukit Uhud.”[11]

6. Melapangkan Jalan ke Surga, Menyumbat Jalan ke Neraka

Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran [3] : 133-134)
Rasulullah n bersabda :

اِجْعَلُوْا بَيْنَكُمْ وَ بَيْنَ النَّارِ حِجَابًا وَلَوْ بِشِقِّ التَّمْرِ

Buatlah penghalang antara dirimu dan api neraka walaupun hanya dengan separuh butir kurma.”[12]

7. Bukti Kebenaran dan Kekuatan Iman

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah n menegaskan :

وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Sedekah adalah menjadi burhan (bukti).”[13]
Maksudnya, sedekah adalah bukti keimanan pelakunya. Sesungguhnya orang munafik menolak keberadaan sedekah karena tidak meyakininya. Barangsiapa yang mau bersedekah, maka hal itu menunjukkan kebenaran imannya.[14]

Rasul n juga bersabda :

لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ اْلإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.”[15]

8. Membawa Keberuntungan dan Merupakan Pintu Gerbang Semua Kebaikan

Allah k telah berfirman, “Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr [59] : 9)

Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sehahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imran [3] : 92)

9. Penggemar Sedekah Mendapat Naungan di Mahsyar

Sedekah akan menolong pelakunya dari kesengsaraan dalam perjalanan menuju alam akhirat. Rasulullah n bersabda :

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskannya perkara-perkara di antara manusia.”[16]

Di dalam hadits lain, beliau n juga bersabda :

ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

Naungan seorang mukmin di hari kiamat adalah sedekahnya.”[17]

10.Pahalanya Mengalir Terus Setelah Mati

Rasululloh SAW. bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنُ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ –وَ ذَكَرَ مِنْ ذَلِكَ- وَ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لابْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهَرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَتِهِ وَ حَيَاتِهِ يَلْحَقَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Pahala amalan dan kebaikan yang bakal menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya –-beliau menyebutkan di antaranya–, (yakni) mushaf yang ia tinggalkan, masjid yang ia bangun, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di kala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.”[18]

11.Menghadiahkan Pahala Sedekah kepada Mayit Disyariatkan
Menurut para ulama ahlus sunnah, bahwa sedekah yang kita keluarkan untuk seseorang yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada si mayit. Hal ini merupakan bukti betapa agungnya sedekah dan betapa mulianya orang yang gemar bersedekah. Banyak hadits yang mempertegas masalah ini. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x :

أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيُّ n فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ أُمِّي اُفْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَ لَمْ تُوْصِي, وَ أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ. أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ : نَعَمْ

Bahwasanya ada seseorang yang datang menemui Rasulullah n seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba dan tidak berwasiat. Aku menduga, sekiranya ia mampu berbicara, tentu ia ingin bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahala bila aku bersedekah atas nama ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.”[19]

Footnote :

1)       Lihat Kaifa Tunammi Amwalaka, hal. 9.

2)      Muslim 1/717, no. 1033.

3)      Shahih Ibni Khuzaimah 4/95, no. 2433; Al-Mustadrak karya Al-Hakim 1/416, ia mengatakan, “Ini adalah hadits shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.”

4)       Syu’abul Iman, karya Baihaqi 3/282, no. 3558. Al-Albani menghasankan hadits ini di dalam Shahihul Jami’ 1/634, no. 3358.

5)       Lihat Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 25.

6)       Syu’abul Iman, karya Baihaqi 3/283, no. 3559.

7)       Diriwayatkan oleh Bukhari dengan lafazh darinya, dan Muslim.

8)      Lihat Kaifa Tunammi Amwalak, hal. 19.

9)      Al-Musnad Ahmad 1/95, no. 104, Az-Zuhd, karya Ibnul Mubarak 229, no. 651. Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ 1/568, no. 2951.

10)  Jami’ut Tirmidzi 3/514, no. 1208, ia berkata, “Hasan shahih”, dan Al-Albani menshahihkannya di dalam Shahihut Tirmidzi 2/4, no. 966.

11)  Diriwayatkan oleh Ahmad (24940). Al-Albani menshahihkannya di dalam Shahihul Jami’ish Shaghir (1815).

12)   Al-Mu’jamul Kabir, karya Thabrani 18/303, no. 777. Al-Albani menghasankannya di dalam Shahihul Jami’ 1/94, no. 153.

13)  Diriwayatkan oleh Muslim (I/203) no. 223.

14)   Lihat Syarhu Muslim, karya An-Nawawi 3/127, dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rojab 2/23 dan 24.

15)   Al-Musnad, karya Ahmad 14/202, no. 8512, dan Shahih Ibni Hiban 8/43, no. 3251. Seorang muhaqqiq mengatakan, “Hadits shahih lighairihi.”

16)   Al-Musnad, karya Ahmad 28/568, no. 17333. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah 4/94, no. 2431; Ibnu Hibban 8/104, no. 3310; dan Hakim 1/416.
[17] Shahih Ibni Khuzaimah 4/95.
[18] Sunan Ibni Majah 1/88, no. 242, dan disebutkan di dalam kitab Az-Zawa’id. Dihasankan oleh Ibnu Mundzir. Dihasankan oleh Al-Albani dalam kitab Shohih Al-Jami’ 1/443, no. 2231.
[19] Shahihul Bukhari no. 1388; Al-Fath 3/299; dan Muslim 1/696, no. 1004.